TRANGKIL, LUKA MEREKA LUKA KITA JUGA

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

            WP_20140125_004

            Puluhan keluarga mengungsi menyusul longsor yang terjadi pemukiman warga di kampung Trangkil Baru, Gunungpati, Semarang, akibat hujan deras yang terjadi sepanjang Rabu (22/1) hingga Kamis. Sejumlah rumah rusak parah meski peristiwa tersebut tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Rumah tersebut dalam kondisi miring. Bahkan, sejumlah tiang listrik juga miring akibat tanah yang bergerak.

            Ketua RT 06/ RW 10 Trangkil Baru, Gunungpati, Semarang, Agus Kushendratno menuturkan longsor besar terjadi pada Kamis pagi. “Sebenarnya tanda-tanda longsor sudah terlihat sejak Minggu (19/1) karena hujan yang terus menerus,” katanya. Menurut dia, longsor besar terjadi hari ini. Ada sekitar 25 keluarga yang rumahnya terkena dampak longsor tersebut. “Yang parah sekitar 15 rumah,” tambahnya.

            Wahana Pecinta Lingkungan Hidup (WAPALHI) Politeknik Negeri Semarang (POLINES), yang merupakan ormawa di Polines yang bergerak dalam kegiatan olah raga alam bebas dan kegiatan sosial ikut serta untuk sedikit membantu korban bencana alam tersebut. Sabtu, 25 Januari 2014 Tim dari Wapalhi datang ke lokasi bencana di Trangkil untuk sedikit memberikan bantuan untuk korban bencana.

            Para warga saat ini masih terus mengevakuasi barang-barang miliknya. Sejumlah rumah yang sudah ditinggal pemiliknya kini dalam kondisi rusak, antara lain tembok rumahnya hancur dan retak. Petugas PLN juga melakukan perbaikan untuk mengangkat sejumlah tiang listrik yang tumbang. Kondisi cuaca tak kunjung membaik, hujan terus mengguyur wilayah Kota Semarang, membuat puluhan warga korban longsor tidak berani kembali ke rumahnya. Mereka lebih memilih tidur di tenda pengungsian.

            .“Kami punya program yang kami namai Wapalhi Berbagi, Wapalhi Berbagi adalah Program Kerja kami yang bergerak dalam bidang Sosial, sedikit uluran tangan kami ini semoga dapat bermanfaat bagi korban bencana”, tutur Ahmad Abdul Karim, salah satu anggota Wapalhi yang saat ini duduk di semester akhir Polines.

               Ratusan warga yang sudah tinggal di tempat tersebut selama tiga tahun terakhir, hanya mampu menatap kosong. Rumah-rumah mereka yang telah dibangun dengan jerih payah, kini rusak parah, bahkan ada yang rata dengan tanah dan tak bisa ditempati kembali. Peristiwa longsor ini adalah yang pertama terjadi. Raut muka sedih, bingung, dan waswas menyelimuti wajah para korban longsor Trangkil, saat koran ini mendatangi tenda pengungsian yang berdiri tidak jauh dari lokasi longsor. Sore itu, banyak warga yang menghabiskan waktu untuk beristirahat, tiduran di tenda.

           Ada yang duduk termenung meratapi nasib rumahnya yang ambrol. Sesekali di antara mereka mengecek kondisi rumah yang ditinggalkannya. Ada juga yang sekadar mengambil barang-barang berharga yang masih berada di dalam rumah. Sejuta harapan ditumpahkan kepada Pemkot Semarang agar bisa membantu relokasi warga yang ke tempat yang aman.

w.11.494.wa

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *