previous arrow
next arrow
Slider

KEINDAHAN GOA JOMBLANG DENGAN CAHAYA SURGANYA

           

            Goa Jomblang merupakan goa vertikal yang bertipe collapse doline. Goa ini terbentuk akibat proses geologi amblesnya tanah beserta vegetasi yang ada di atasnya ke dasar bumi yang terjadi ribuan tahun lalu. Runtuhan ini membentuk sinkhole atau sumuran yang dalam bahasa jawa dikenal dengan istilah luweng.

Itulah yang membuat unik karena di dasar goa vertikal terdapat hutan purba dan mulut goa horisontal dengan diameter sekitar 50 meter ini sering disebut dengan nama Luweng Jomblang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

       Untuk memasuki Goa Jomblang dengan kedalaman 60 meter ini pengelola memberikan peralatan khusus yg mana telah mengikuti standar caving di goa vertikal. Wisatawan hanya perlu membawa perlengkapan seperti baju ganti, kaos kaki dan air mineral. Sebagai gambaran aktivitas di dalam goa akan melewati trek yg berlumpur dan kondisi ruangan yang lembab serta medan turunan dan tanjakan dengan durasi trip -+ 3 jam ( periapan dan antri proses turun maupun naik -+ 2 jam dan susur goa -+ 1 jam ). Selain itu di dalam goa juga terdapat aliran air yang dangkal. Proses menuruni goa vertical menggunakan pulley sistim ( sistem timba ) dengan di delay oleh operator. Proses naik pun kurang lebih sama, dengan ditarik manual oleh beberapa puluh 20 – 30 orang. trip ini dilakukan 1x dalam sehari dengan maksud untuk memperoleh timming cahaya matahari masuk ke dalam goa yang sering disebut “cahaya surga”, jadi di perlukan booking terlebih dahulu.

            Selain kedalaman 60 meter, Goa Jomblang juga memiliki jalur dengan kedalaman 80 meter, 25 meter, dan 20 meter.

Pada tanggal 25 September 2021 WAPALHI (Wahana Pecinta Lingkungan Hidup) Politeknik Negeri Semarang melakukan penelusuran Goa Jomblang dengan menggunakan jalur yakni 80 meter dengan membuat jalur sendiri dan memakai alat-alat sendiri.

Alat – alat yang perlu digunakan untuk regging man adalah carmantel 100m yang disambung dengan carmantel  75m yang dibawa menggunakan dry bag  dengan ukuran 60l, seorang regging man menggunakan alat yaitu satu set srt yang termasuk dengan cover all, sepatu boot, helm dan  head lamp. Alat – alat logam selain yang termasuk set srt adalah caraniber scrue, carabiner snap, dan auto stop. Untuk alas carmantel, seorang reegging man menggunakan MMT bekas, matras, pedding crack, dan paracot. Untuk menghindari adanya gesekan antara carmantel dengan tebing secaralangsung yang nantinya akan menyebabkan putusnya carmantel.

WAPALHI melakukan perjalanan dari basecamp menuju Goa Jomblang sekitar pukul 02.00 WIB dengan jarak tempuh sekitar 1,5km dengan waktu tempuh 5menit dengan menggunakan motor. Kesulitan awal saat akan melakukan  regging adalah mencari mulut Goa Jomblang dengan kedalaman 80m, karena hanya dengan menggunakan pencahayaan headlamp. Regging man harus mencoba jalur yang telah ia buat sendiri untuk memastikan bahwa jalur tersebut aman untuk dilewati caver lainnya. Saat mencoba jalur, kendala yang dihadapi oleh regging man  adalah di tengah – tengah jalur auto stop yang digunakan tiba – tiba sedikit macet.

            Caver yang mencoba jalur 80m berjumlah 15 orang hingga sampai pada cahaya surga tepat pukul 13.00 WIB, disana kita dapat menikmati keindahan dibawah tanah yang tidak semua orang dapat merasakan keindahannya. Dan melihat ornamennya yang menyala bercahaya dengan aliran air dibawahnya yang dangkal.