previous arrow
next arrow
Slider

Mengenal Tradisi di WAPALHI ( Wahana Pecinta Lingkungan Hidup )

         Apa yang kalian ketahui tentang tradisi? Arti kata Tradisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat. Untuk WAPALHI sendiri, tradisi merupakan kegiatan yang dilakukan oleh anggota wapalhi maupun calon anggotanya secara rutin tiap waktu dan di tempat tertentu.

Menjaga dan menjalin silaturahmi serta temu kangen antar anggota merupakan salah satu tujuan terpenting dalam pelaksanaan tradisi-tradisi yang ada, sehingga yang melaksanakannya (baik anggota, calon anggota, maupun partisipan) pada tiap angkatan akan saling mengenal dan terjaga komunikasinya. Selain itu, diharapkan pula dapat berlanjut saling membantu baik dalam kegiatan WAPALHI maupun diluar agenda WAPALHI. Bagi anggota aktif sendiri kegiatan tradisi di WAPALHI dapat dijadikan wadah untuk menambah informasi dan pengalaman dengan anggota anggota yang usianya lebih tua. Beberapa saudara tua (anggota non aktif) akan memanfaatkan sebagai acara outdoor adventure tentu dengan semangat yang tinggi karena bersama seluruh anggota. Momen pada kegiatan tradisi ini belum tentu bisa didapatkan di kegiatan organisasi yang lain.

Terdapat 2 jenis tradisi di WAPALHI yaitu tradisi yang wajib (resmi) dilakukan dan tradisi yang tidak wajib (tidak resmi) dilakukan. Tradisi yang wajib dilakukan ialah Tradisi Merapi dan Tradisi Ungaran, sedangkan Tradisi yang tidak wajib dilaksanakan ialah Tradisi Wisuda. Tradisi-tradisi di WAPALHI diadakan sebagai salah satu wujud dari eksistensi WAPALHI. Momen tradisi menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh para anggota.

 

         Tradisi Merapi dan Tradisi Ungaran hampir memiliki rangkaian acara yang sama yaitu sarasehan serta pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan rutin setiap satu tahun sekali. Yang membedakannya ialah pada puncak acaranya, Tradisi Merapi dilaksanakan untuk melantik Kepala Suku WAPALHI. Sedangkan Tradisi Ungaran merupakan kegiatan WAPALHI yang dilaksanakan untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) WAPALHI yaitu pada 4 Desember. Kedua tradisi tersebut mengundang seluruh anggota WAPALHI yang bisa bersifat internal (hanya Anggota,  Calon Anggota, maupun partisipan WAPALHI) atau eksternal (membuka kegiatan untuk umum). Kegitan kegiatan tersebut bisa dijadikan sebagai media sosialisasi dan sharing informasi tentang WAPALHI kepada anggota, calon anggota, maupun masyarakat.

 

 

Tradisi Merapi sudah diadakan sejak berdirinya WAPALHI yang dahulu sebelumnya bernama PALAPOLI. Momentum pergantian Kepala Suku awalnya dilaksanakan di area Puncak  Garuda, tapi setelah terjadi erupsi Gunung Merapi yang mengakibatkan Puncak Garuda Longsor puncak acara dipindah ke area Pasar Bubrah. Namun karena tingkatan status Gunung Merapi berada pada level III atau siaga maka pelaksanaan kegiatan tersebut dilakukan di kawasan Selo Gunung Merapi. Pemilihan gunung Merapi sebagai tempat pelaksanaan Tradisi Merapi bermula dari Anggota WAPALHI terdahulu yang sudah mengenal Gunung Merapi dan memang menjadi idola para pendaki.

 

Sedangkan, Tradisi Ungaran digagas pertama kali sebagai salah satu rangkaian Pendidikan Dasar. Desa Medini atau Desa Promasan menjadi tempat pelaksanaan kegiatan tersebut. Rangkaian kegiatannya selain merayakan HUT WAPALHI ialah bakti masyarakat di area Desa Medini maupun Desa Promasan yang merupakan desa tertinggi dan terpencil di Semarang. Selanjutnya melakukan pendakian ke Puncak Tugu (Puncak tertinggi di Semarang) sebagai simbol semangat yang tinggi dari WAPALHI dalam berkegiatan. Dipilih di Gunung Ungaran karena menjadi tanda bahwa WAPALHI lahir dan berdomisili di Semarang.

 

Tradisi Wisuda mulai dilakukan secara terus menerus kurang lebihnya dari tahun 1989. Tradisi Wisuda merupakan kegiatan pendakian ke Gunung dalam rangka perayaan dan ungkapan rasa syukur telah menyelesaikan pendidikan di POLINES dan masa kebersamaan WAPALHI di kampus. Pendakian Tradisi Wisuda pertama kali disepakati ke Gunung Sumbing jalur naik via Cepit Parakan dan jalur turun via Garung, tujuan lokasinya adalah area kawah lalu menuju puncak Gunung Sumbing. Namun karena Tradisi Wisuda bukanlah tradisi yang wajib (resmi) dilakukan, maka waktu dan lokasinya tidak ditentukan atau menyesuaikan pelaksana sendiri dengan syarat diusahakan tidak memilih Gunung Ungaran dan Gunung Merapi sebagai tempat pelaksanaan. Tradisi Wisuda tidak hanya dirayakan oleh anggota WAPALHI yang baru menyelesaikan pendidikannya tapi juga anggota lain dapat ikut serta dalam kegiatan tersebut.

Selama tradisi di WAPALHI membawa kebaikan bagi anggota WAPALHI dan WAPALHI sebagai organisasi, maka melestarikan serta menjaga tradisi tentunya harus dilakukan agar nilai eksistensi WAPALHI dari awal terjaga dengan baik. Melestarikan tradisi adalah bentuk dari kecintaan anggota kepada organisasi juga sebagai napak tilas kegiatan-kegiatan yang telah diadakan dan dirintis pendahulunya sebagai tongkat estafet generasi penerus WAPALHI.

Oleh : Ferry Budi Atmoko (W.85.011.KABULA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *