GATHERING IV SSI 2016

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

SSI (Survival Skill Indonesia) sendiri adalah sebuah wadah tempat belajar, diskusi, berbagi dengan sesama penggiat dan peminat kegiatan di alam bebas dengan fokus  di bidang ilmu Survival, Navigasi, Medical First Responder (MFR), Mountaineering, dan ilmu – ilmu yang berkaitan dengan latar belakang banyaknya kecelakaan yang terjadi dalam berkegiatan di alam bebas, di rumah, di tempat kerja atau di lingkungan sekitar. Jadi, dalam kegiatan Gathering SSI para peserta dikenalkan apa itu keadaan survival, cara menghadapinya, apa saja yang diperlukan dalam keadaan tersebut dan berbagai ilmu – ilmu lain yang berguna bagi penggiat alam. Materi diisi oleh pendiri SSI langsung yaitu Michael Antoni Ugiono yang merupakan seorang Survival Expert, Certified Emergency (MFR), Based Educator, Outdoor Adventure, dan Water Rescue Instructor of Bahari Rescue.

Materi dalam Gathering IV SSI 2016 Chapter Jatim ini antara lain :

  1. Psychological aspect of survival
  2. Basic Principles of survival
  3. Sheltering
  4. Fire Crafting
  5. Water Procurement
  6. Snare and Trap
  7. Food Processing
  8. Signaling
  9. Survival Kit Previews

Keempat perwakilan dari WAPALHI berangkat pada jumat malam bersama dengan satu orang dari mapala Aldaka Wanaseta UDINUS dengan menggunakan Kereta Api Semarang – Surabaya.

Tiba di Bumi Perkemahan sekitar pukul 09.10, tepat sesuai perkiraan karena acara akan dimulai pada pukul 10.00. Sesampainya disana mendirikan Tenda, istirahat sejenak kemudian membersihkan diri. Tanpa adanya pemberitahuan dari pihak panitia ternyata acara dimundurkan sampai jam 14.00 WIB sehingga ada banyak waktu luang untuk istirahat.

Setelah makan siang, acara pertama yaitu Pembukaan dimulai pukul 14.00 WIB oleh om Wawan selaku coordinator kemudian dilanjut materi teori oleh om Michael. Materi teori diisi dengan penjelasan mengenai semua materi yang sudah di sebutkan diatas, tanya jawab, dan diskusi yang berjalan dengan santai hingga pukul 20.00 WIB kemudian dilanjut dengan istirahat.

Pukul 24.00 WIB tepat semua peserta dibangunkan, tanda bahwa waktu istirahat berakhir dan dilanjut dengan “Blackout”. Blackout adalah suatu keadaan kita dibawa menuju hutan dan ditempatkan disuatu tempat sendirian tanpa menggunakan penerangan apapun selama ± 3 jam. Di tempat tersebut peserta tidak diizinkan membawa penunjuk waktu (jam), penerangan dan tidak diperbolehkan tidur (harus tetap terjaga selama blackout). Fungsi dari Blackout ini adalah untuk mempersiapkan apabila kita ada dalam keadaan survival sendirian tanpa ada siapapun karena kunci lolos dari keadaan survival adalah pikiran dan sikap mental yang tepat. Ketika dalam keadaan survival (ex: blackout) akan ada banyak stressor (pemicu stress) yang mendatangi, seperti rasa takut, bosan, kesepian, hawa panas dan dingin, panik dan Lelah. Blackout sangat bermanfaat untuk memberikan gambaran apabila berada dalam keadaan survival dan harus menghadapi stressors yang datang. Blackout selesai sekitar pukul 03.30 WIB, setelah itu acara bebas peserta diperbolehkan kembali istirahat ataupun melakukan kegiatan lain sampai materi selanjutnya.

Minggu, 11 Desember 2016 hari kedua Gathering IV SSI 2016 Chapter Jatim, materi dimulai sekitar pukul 09.00 WIB. Materi hari kedua adalah praktek dari materi teori yang telah disampaikan malam sebelumnya yaitu 3 dari prioritas utama survival, Api, Air, dan makanan. Materi pertama adalah api, salah satu hal yang sangat penting dalam kehidupan terutama survival. Selain dapat menghangatkan badan api juga dapat memberikan rasa aman dan semangat yang tinggi, juga dapat digunakan signaling (memberi tanda) kepada rescuer dan dapat juga mensterilkan air (direbus) dan membuat makanan. Api dapat dibuat dengan mudah hanya dengan menggunakan korek. Namun apabila dalam keadaan survival korek akan selalu tersedia?? Tentu tidak, oleh karena itu penting untuk mengetahui cara – cara membuat api tanpa menggunakan korek diantaranya yaitu dengan menggunakan fire starter, teknik bow and drill (gesekan), batu, dll. Prisnsip utama dalam membuat api (Segitiga api / fire triangle) adalah Oksigen, panas, dan bahan bakar. Salah satu cara untuk membuat api adalah dengan menggunakan fire starter dan ranting kering. Untuk membuat api menggunakan fire starter ini diperlukan tinder (bahan bakar) yang dapat dibuat dari bambu atau kayu kering yang diserut. Caranya cukup mudah yaitu dengan menyerut bambu atau kayu kemudian dikeringkan dan menyiapkan daun/ranting kering, setelah itu percikkan api dari fire starter ke serutan bambu atau kayu sampai timbul api kemudian tambahkan daun/ranting kering hingga api membesar. Apabila api dari fire starter tidak dapat bertahan maka akan timbul bara pada bambu atau kayunya sehingga hanya perlu menambahkan daun/ranting kering dan meniupnya hingga menjadi api yang besar.

Setelah materi api, selanjutnya adalah air (water procurement). Ada banyak cara untuk mendapatkan air dari alam apabila tidak dapat menemukan sungai di sekitar, diantaranya yaitu menggunakan rain catcher, transpirasi, respirasi, dapat juga mengumpulkan embun dan mencari tumbuhan yang mengandung air. Air merupakan salah satu yang paling penting karena secara teori manusia dapat bertahan hidup tanpa air maksimal 3×24 jam. Yang dipelajari dalam gathering ini adalah mendapat kan air dari hujan dengan membuat rain catcher.

Sangat sederhana namun sangat bermanfaat pula. Memang teknik ini hanya mengandalkan air hujan namun ini cukup membantu. Caranya yaitu dengan tadah untuk air hujan dari plastik, kemudian mulut plastiknya di tusuk dengan kayu atau bambu tipis secara melingkar sehingga mulut plastik tetap terbuka terus, setelah itu membuat kayu penyangga untuk meletakkan plastik tersebut di tanah dan cukup dibiarkan hingga air hujan turun. Cukup sederhana bukan?? Hal lain yang dapat dilakukan yaitu transpirasi dengan membuat atau memanfaatkan cekungan atau lubang tanah yang tidak terlalu dalam, kemudian meletakkan plastik diatasnya sesuai dengan cekungan/kemiringan dan menempatkan penampung air di dalam lubang (ditengah tengah). Apabila plastik atau rumput yang ada didalamnya mengembun maka air akan menempel pada plastik dan mengalir sesuai cekungan/kemiringan sehingga akhirnya akan menetes pada penampung air. Dengan begitu air akan terkumpul.img_20161212_101615

Materi terakhir di hari kedua adalah makanan karena secara teori manusia tidak bisa hidup lebih dari 3 minggu tanpa makanan. Untuk mendapatkan makanan dapat dapat memanfaatkan tumbuhan – tumbuhan sekitar yang dapat dimakan. Selain itu dapat juga menangkap hewan – hewan dengan membuat jerat atau jebakan (snare and trap). img_20161212_1016061Ada banyak teknik snare and trap diantaranya Ground simple snare, spring snare, deadfall trap dan simple bird trap/snare. Pada acara gathering ini ada dua teknik yang dipelajari yaitu spring snare dan simple bird trap (arapuca indian style). Untuk membuat spring snare diperlukan kayu/bambu yang lentur untuk memasang jebakan kemudian membuat seperti lengkungan dari bambu yang ditanam di tanah. Bambu lentur yang sudah tertanam di pasangi benang kemudian dikaitkan dengan lengkungan bambu sehingga dapat terkait kemudian dibagian yang dikaitkan ditata beberapa kayu kecil untuk mengelabuhi bahwa itu jebakan. Benang dibuat simpul yang tidak benar benar terikat (dapat ditarik) dan diletakkan diatas kayu kecil yang ditata.

Sedangkan untuk membuat teknik arapuca indian style diperlukan beberapa ranting untuk menyusun perangkap. Perangkap dibuat dengan menyusun kayu/ranting berbentuk kotak hingga menjadi bentuk pyramid kemudian membuat penyangga jebakan yang terdiri dari 4 kayu yaitu dua dari kedua sisi bawah perangkap pyramid satu dari tengah bagian atas kemudian disangga lagi dengan satu kayu bagian bawah. Untuk mempermudah mendapatkan hewan dapat ditambahkan batu diatas perangkap pyramid sehingga hewan akan cepat tertangkap apabila terkena perangkap. Materi hari kedua diakhiri dengan pembuatan perangkap kemudian dilanjutkan bersih diri.

Malam harinya para peserta kembali berkumpul untuk membahas dan diskusi / sharing mengenai blackout yang telah dilaksanakan dan membakar beberapa jagung. Acara berakhir sekitar pukul 22.30 WIB.

Hari terakhir Gathering IV SSI 2016 Chapter Jatim, Senin 12 Desember 2016 diisi dengan materi signaling, api dan pengenalan alat survival. Dihari terakhir ini para peserta kembali diajari bagaimana membuat api yaitu dengan menggunakan fire piston dan jarclothe. Fire piston adalah sebuah pemicu api yang cara mengunakannya seperti ditembakkan sedangkan jarclothe adalah bahan bakar yang terbuat dari kain katun. Untuk membuat jarclothe harus menggunakan kain katun asli tanpa tambahan bahan sintetis kemudian kain dimasukkan kedalam kaleng lalu ditutup dan diberi lubang kecil pada tengahnya. Setalah itu kaleng yang berisi kain dibakar hingga lubang kecilnya tidak mengeluarkan asap. Apabila sudah tidak mengeluarkan asap kain dapat diambil dan digunakan, cara menggunakannya yaitu dengan menaruhnya didalam fire piston dan menembakannya makan akan keluar bara. Apabila sudah ada baranya maka tinggal menambahkan ranting atau daun kering untuk membuat api. Jarclothe juga dapat dihidupkan dengan alat pemantik api lainnya seperti fire starter.

Setelah membuat jarclothe, selanjutnya yaitu signaling dengan menggunakan asap dan heliograph. Signaling dilakukan dengan melakukan perlombaan antar peserta yang dibagi menjadi lima kelompok. Tiap kelompok berlomba lomba untuk membuat asap yang setebal – tebalnya untuk menandai keberadaan. Untuk membuat asap tebal dapat dilakukan dengan membuat api besar kemudian diatasnya ditutup dengan daun – daun basah tapi api dibagian bawah tidak boleh mati sehingga asap tetap tebal. Prinsip signaling asap adalah membuat segitiga asap, sehingga harus membuat tiga api atau signaling asap. Setelah signaling asap selesai dilanjut dengan signaling menggunakan heliograph, yaitu alat yang dapat digunakan memberi tanda kepada helicopter atau pesawat pencari yang sedang terbang disekitar lokasi.img_20161212_121044

Heliograph dapat digantikan dengan menggunakan CD atau kaca. Cara kerjanya yaitu dengan memantulkan sinar mata hari melalui heliograph/kaca/CD kepada pilot sehingga mereka mengetahui keberadaan survivor. Selain cara – cara tersebut signaling juga dapat digunakan dengan menggunakan peluit (kode morse) dan membuat tanda darurat. Kode morse SOS adalah … _ _ _ …

Acara terakhir adalah perkenalan alat – alat survival yang terdiri dari dibawah ini :

cats1

Setelah pengenalan alat – alat survival selanjutnya yaitu games berhadiah. Diantaranya yaitu menjawab pertanyaan dan membuat api dengan hadiah carabiner, helm, medical scissor, dll. Alhamdulillah perwakilan dari WAPALHI mendapat hadiah satu buah carabiner dan satu buah helm. Acara ditutup dengan berfoto bersama.img_20161212_130123_hdrimg_20161212_130513_hdr

Nah itu lur, pengalaman dari salah anggpta dari WAPALHI selama acara gathering IV di Malang. Semoga ilmu ini bermanfaat untuk kita semua.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *